5 Hal Yang Harus Segera Diajarkan Di Sekolah

Esai Pendidikan - Kita sepakat bahwasanya pendidikan di Indonesia masih belum sempurna. Terlebih jika kita melihat berbagai penelitian mengenai mutu pendidikan kita dibanding negara lain, bahkan di kawasan ASEAN sekalipun.

Tanpa kita menyadari betapa masih sangat tidak sempurnanya pendidikan Indonesia, maka kita tidak akan mau berubah, alih-alih mengejar ketertinggalan.

Lalu apa saja faktor yang membuat pendidikan di Indonesia masih sangat tertinggal? Ada banyak. Salah satunya mengenai bagaimana bangsa ini menyambut era Industri 4.0 sekaligus menanggapi current issue yang sedang hangat. Bukan hanya hangat, namun juga menganca eksistensi umat manusia. 

5 Hal Yang Harus Diajarkan Di Sekolah
5 Hal Yang Harus Diajarkan Di Sekolah


Melalui esai singkat ini, Esai Edukasi ingin berbagi kegelisahan seputar bagaimana 'kelambanan' kita untuk turut serta dalam barisan bangsa-bangsa yang sudah mulai sadar apa yang sedang dihadapi umat manusia dewasa ini. 

Ya, kita harus berbenah. Dan salah satu langkah awal adalah melihat kembali apakah yang kita ajarkan kepada generasi penerus di sekolah memang yang mereka butuhkan di masa depan. Jangan sampai kita memaksakan keterbatasan visi kita melihat dunia untuk kemudian mereka gunakan sebagai bekal di masa mendatang. 

Setidaknya ada lima hal yang kurang mendapat porsi dalam pendidikan kita namun pada hakekatnya itulah yang menjadi fokus utama umat manusia. Kelima hal ini harus mulai ditekankan dalam pengajaran di sekolah-sekolah mulai dari sekarang, mulai dari tingkat yang paling awal.

Lalu apa saja 5 hal yang harus diajarkan secara intensif di sekolah? Melalui esai pendidikan singkat dan sederhana ini, Esai Edukasi mencoba merangkum untuk Anda, yaitu : 

1. Hutan yang semakin menciut

Anda mungkin setuju dengan hal ini. Kurikulum Indonesia juga sudah 'mencantumkan' isu ini sedari lama. Katakanlah dalam pelajaran IPA, Geografi, IPS, Biologi, dan bahkan Bahasa Indonesia. 

Katakanlah setidaknya pertanyaan mengenai hutan sebagai ekosistem, jenis-jenis hutan, serta yang paling klise, manfaat hutan bagi kehidupan. 

Tetapi apakah itu cukup untuk menanamkan keberanian bagi Anak SMA menentang illegal logging? Atau memberi kesadaran pada siswa SMP bahwa anak cucunya nanti mungkin saja tidak akan tahu betapa dahulu begitu hijaunya Kalimantan dan Sumatera? 

Kita butuh dramatisasi! Kita perlu dorongan yang lebih hiperbola! Mereka harus benar-benar sadar bahwa Indonesia yang merupakan paru-paru dunia itu sedang terkena kanker yang parah.

Akibat penebangan hutan
Penebangan hutan

Hutan kita menciut. Itu artinya bencana sudah mengintip untuk memusnahkan ras kita seperti dinosaurus musnah dari bumi. Harus ada tindakan nyata segera!

Isu ini adalah sesuatu yang penting. Kita pernah punya jutaan hektar hutan namun semua mengalami deforestasi secara massif dan cepat. Maka tidak bisa tidak, hutan dan segala permasalahannya harus disajikan dalam kurikulum secara lebih intensif. Termasuk alur terjadinya illegal logging, hingga kemana nantinya kayu-kayu kita mengalir dalam bentuk dollar. 

2. Korupsi adalah bunuh diri kemanusiaan

Bangsa yang korup adalah bangsa yang paling merugi. Apakah Indonesia bangsa yang korup, dimana korupsi dan nepotisme menjangkiti seluruh lapisan masyarakat dari kasta teratas hingga yang paling bawah. 

Tentu saja tidak! Yang korup itu hanya oknum! Pasti Anda setuju, khan!

Masalahnya, berapa dan siapa saja oknum-oknum tersebut? Itulah masalah kita. PPKN (apakah masih ada?), Pendidikan Agama, Bahasa Indonesia, hingga Matematika sangat berperan sebagai sarana mengajarkan laknatnya perilaku korupsi.

Dampak negatif korupsi : kesenjangan

Bukan hanya menyadarkan bahwa korupsi itu tidak sesuai norma, tetapi menyajikan fakta yang lebih nyata : Korupsi itu membunuh kemanusiaan. Jika kemanusiaan sudah mati, maka seseorang sejatinya adalah monster, biarpun tubuhnya manusia.

Lihat saja betapa ketertinggalan yang amat jauh dari bangsa kita dibanding bangsa-bangsa lain, dimana salah satu batu sandungannya adalah mental korupsi.

Jika mau mendalami lebih jauh perihal tindakan korupsi yang sayangnya sudah berubah menjadi budaya dan mental korup, silahkan kunjungi tautan ini dan ini

Inilah yang harus diajarkan di sekolah secara intensif. Jauhi korupsi. Hindari nepotisme. Buang jauh-jauh suap dan sogok-menyogok. 

Dan tiada pengajaran yang lebih efektif selain dari memberi suri tauladan dalam bentuk nyata. Bapak ibu guru, tuan dosen dan profesor, Anda semualah harapan bangsa ini. Setidaknya tidak melakukan atau hindari 13 kebiasaan buruk para guru

3. Toleransi harga mati

Semakin lama permasalahan yang dihadapi umat manusia semakin kompleks. Mulai dari kekerasan, perang antar-bangsa yang tak kunjung usai, menipisnya sumber daya alam hingga ledakan penduduk. 

Mari kita sepakati betapa hebatnya orang Amerika, cerdasnya Jerman, briliannya Jepang, luar biasanya Cina, jeniusnya Rusia hingga menakjubkannya Singapura. Tetapi apakah mereka mampu mengatasi persoalan umat manusia sendirian, sebagai sebuah bangsa.

Tidak! Tidak akan mungkin bisa! Bangsa-bangsa kenamaan itu butuh teman. Mereka harus bergandengan tangan dengan orang Zimbabwe, Papua New Guinea, Haiti, Suriah, Pantai Gading, Kamboja, Etiopia, dan kita. Dan semua orang di dunia.

Mengajarkan toleransi
Mengajarkan Toleransi


Dunia harus bersatu. Umat manusia harus bergerak bersama sebagai sebuah ras yang sadar, terdidik dan saling percaya.

Dan semua itu dimulai di dalam ruang kelas Anda. Di tengah-tengah jiwa anak-anak kita. Melalui pendidikan yang diajarkan setiap harinya.

Pendidikan harus bisa membuat manusia percaya pada sesamanya. Learning to live together. As one human race.

Jikalau pendidikan justru memecah belah jiwa-jiwa muda yang belum dewasa, maka itu adalah propoganda dan agitasi. 

Sebelum nanti murid-murid kita bekerja sama dengan warga Perancis, orang Kurdi maupun suku Swahili, mereka harus terbiasa memperlakukan teman dan sesamanya sebagai saudara. Apapun latar belakang dan kepercayaan, pandangan hidup dan organisasi yang teman mereka ikuti. 

Dan awal dari itu semua adalah tindakan nyata dari negara dan pemerintah untuk memastikan bahwa semua guru adalah sosok yang memahami arti dari semua itu. 

Sebelum menjadi guru, seseorang harus benar-benar selesai dengan permasalahan toleransi dan bagaimana memperlakukan mereka yang berbeda. 

Karena pada dasarnya apa yang sedang kita hadapi jauh lebih mengerikan daripada sekedar saling hina karena perbedaan warna kulit, bahasa, ras, agama atau status sosial. 

4. Ledakan penduduk, industrialisasi dan bencana kelaparan 

Ledakan Penduduk


Tiga  hal yang saling terkait ; ledakan penduduk, industrialisasi dan ancaman kelaparan. Makin banyak manusia berarti makin banyak juga mulut yang harus diberi makan dan perut yang butuh roti. Sampai dimana bumi mampu melakukannya? Sedang di sisi lain, orang sibuk mengkonversi hutan, sungai, laut dan gunung menjadi emas dan recehan uang?

Pendidikan harus mengajarkan ini secara intensif. Kolaborasi Ekologi, Geografi, Ekonomi, Matematika dan Sains harus memberikan visi yang benar bagaimana dunia sebagai sebuah planet benar-benar tua dan ringkih. 

Kita tidak bisa hanya mengandalkan "Anak-anak silahkan buat kliping tentang bencana dan kumpulkan besok sebelum istirahat"

Instruksi macam itu dan sejenisnya tidak akan bisa memberikan dampak bagi otak dan jiwa anak-anak. 

5. Robot vs Manusia adalah nyata! 

Robot bukan lagi visi tentang masa depan. Saat esai ini ditulis, google sudah berkibar dengan Google Assistant serta algoritmanya yang luar biasa. Berkomunikasi dengan teman yang ada di Meksikopun hanya butuh sebuah penyumpal kuping (airpod).

robot vs manusia
robot vs manusia


Robot adalah hasil perkawinan kegigihan, kecerdasan dan tentu saja..... modal!

Teknologi luar biasa yang kita miliki sekarang : mesin pemanen pisang, alat peluruh batu ginjal, metode membangun rumah anti gempa, hingga drone yang dimainkan anak-anak kelas 6, adalah buah karya para penemu, insinyur dan pemikir brilian.

Terima kasih untuk kehadiran mereka di tengah umat manusia.

Sekarang masalahnya, Quo Vadis Teknologi? Akan kemana itu semua? Benar-benar dibagi untuk kesejahteraan seluruh umat manusia, atau hanya akan makin memperkaya sekelompok orang tertentu?

Ada 'dongeng' menarik tentang Nikola Tesla yang menemukan menara ajaib yang bisa membagi listrik gratis pada warga kota. Penemuan itu nyatanya hanya sebatas rancangan tanpa wujud nyata? Apakah ada oknum tertentu yang tidak ingin listrik gratis itu terwujud?

Terlepas dari benar tidaknya cerita itu, siswa harus dibiasakan dengan teknologi. Bukan hanya sebagai pengguna atau konsumen, namun juga sebagai pencipta. Bukankah kita punya DNA seorang Habibi sang insinyur brilian?

Jangan sampai anak-anak kita tumbuh dan 'dijajah' bukan oleh bangsa lain, tetapi ras yang belum pernah ada sebelumnya. Robot!

anak-anak / esaiedukasi.com
Anak-anak cahaya masa depan


Demikianlah esai pendidikan singkat dari Esai Edukasi. Semoga mutu pendidikan Indonesia dapat segera meningkat. Setidaknya arah menuju kesana sudah mulai terlihat. 

Baca terus artikel dari Esai Edukasi lainnya, seperti isu Paperless, dimana mengupas bagaimana mengurangi penggunaan kertas di kantor dan sekolah. Atau kunjungi daftar artikel untuk melihat semua artikel kami. 

Post a Comment

2 Comments

  1. Pembelajaran ini sangat baik untuk diajarkan untuk anak dan orang tua.
    Dari : Mesin Pertanian

    ReplyDelete
  2. Sejatinya memang harus diajarkan sejak din pendidikan-pendidikan seperti ini.

    ReplyDelete
Emoji
(y)
:)
:(
hihi
:-)
:D
=D
:-d
;(
;-(
@-)
:P
:o
:>)
(o)
:p
(p)
:-s
(m)
8-)
:-t
:-b
b-(
:-#
=p~
x-)
(k)