Display Ad

Penerapan Teknik KWL dalam Model Inkuiri 5E

Banyak guru, khususnya yang sudah mengajar lebih dari 20 tahun lupa jaman sudah berubah. Anak-anak di luar sekolah punya banyak sekali guru lain: Google, orang tua, buku, Youtube, online class, guru les, kakak mereka sendiri, tutor berbayar dan mungkin sekali AI. 

Ini tentu berbeda dengan keadaan 20 tahun lalu, dimana guru dan mungkin juga buku menjadi sumber pengetahuan utama. Alhasil banyak ditemui anak-anak sudah paham suatu materi sebelum guru bahkan membuka halaman-halaman awal dari bagian tersebut. 

Siswa jaman sekarang hidup dengan banyak sekali sumber belajar. Sering kali mereka datang ke kelas tidak dengan zero knowledge.

Guritno Adi Siswoko, Penulis Esaiedukasi.com

Aktif Belum Tentu Reflektif

Dalam dua artikel sebelumnya kita telah membahas pembelajaran inkuiri dan secara khusus model 5E sebagai salah satu arsitektur paling sistematis dalam menerjemahkan filosofi inkuiri ke dalam praktik kelas. Model 5E (Engage, Explore, Explain, Elaborate, Evaluate) yang dikembangkan oleh Rodger W. Bybee memberi kita kerangka yang rapi, dinamis, dan teoritis kuat.

Namun sebuah pertanyaan penting perlu diajukan: apakah pembelajaran yang aktif otomatis membuat siswa sadar terhadap apa yang mereka ketahui dan pelajari?

Tidak selalu. Banyak kelas sudah menerapkan model inkuiri 5E. Siswa berdiskusi, bereksperimen, mempresentasikan hasil, bahkan melakukan refleksi. Tetapi sering kali yang terjadi adalah aktivitas tanpa metakognisi. Siswa bergerak, tetapi tidak selalu menyadari pergeseran pengetahuannya. Mereka menjawab, tetapi tidak selalu memahami bagaimana jawaban itu berbeda dari pemahaman awalnya.

“Learning is not a spectator sport. Students do not learn much just by sitting in classes listening to teachers.” 

Chickering dan Gamson

Kutipan tersebut menegaskan bahwa pembelajaran aktif adalah kebutuhan, bukan pilihan. Di sinilah teknik KWL menjadi relevan. Artikel ini akan membahas secara mendalam posisi teknik KWL dalam pembelajaran inkuiri, bagaimana ia terintegrasi secara logis dalam model 5E, serta mengapa strategi sederhana ini mampu memperkuat perubahan konseptual siswa. KWL dan Inkuiri 5E sama sama mendorong keterlibatan mental siswa sejak awal proses belajar.

Artikel ini masih merupakan bagian dari seri pembelajaran inkuiri, yang sengaja ditulis oleh esaiedukasi.com untuk membantu rekan guru dan mahasiswa FKIP dalam memperkaya variasi model/metode/teknik pembelajarannya.

Penerapan Teknik KWL dalam Model Inkuiri 5E
Penerapan Teknik KWL dalam Model Inkuiri 5E

Mengapa Model Inkuiri Masih Membutuhkan Teknik Tambahan?

Model pembelajaran inkuiri 5E sudah memiliki sintaks yang lengkap. Ia berakar pada konstruktivisme dan penelitian perubahan konseptual. Dalam Achieving Scientific Literacy, Bybee (1997) menegaskan bahwa tujuan pembelajaran sains bukan sekadar memahami definisi, melainkan membangun literasi ilmiah melalui pengalaman yang terstruktur.

Namun dalam praktik, satu tantangan sering muncul: aktivasi pengetahuan awal tidak selalu terdokumentasi secara eksplisit. Tahap Engage memang dirancang untuk menggali gagasan awal siswa, tetapi tanpa alat bantu yang sistematis, guru sering melewatinya secara cepat atau dangkal.

Padahal, menurut teori konstruktivisme Jean Piaget, pembelajaran terjadi ketika struktur kognitif lama mengalami asimilasi atau akomodasi. Artinya, guru perlu mengetahui secara jelas apa yang sudah ada dalam pikiran siswa sebelum membawa mereka ke tahap eksplorasi.

Lebih jauh lagi, Lev Vygotsky menekankan pentingnya interaksi sosial dan refleksi dalam membangun pemahaman. Tanpa refleksi yang terstruktur, pengalaman eksplorasi bisa saja menjadi aktivitas yang menarik tetapi tidak bermakna. Model 5E menyediakan kerangka. KWL menyediakan cermin.

Apa Itu KWL? Strategi, Bukan Model

KWL pertama kali diperkenalkan oleh Donna M. Ogle pada tahun 1986 dalam artikelnya di The Reading Teacher. Ia menyebut KWL sebagai instructional strategy yang membantu siswa mengembangkan pembacaan aktif terhadap teks ekspositori.

KWL adalah singkatan dari:

  • K (Know) – Apa yang sudah saya ketahui?
  • W (Want to know) – Apa yang ingin saya ketahui?
  • L (Learned) – Apa yang telah saya pelajari?

Secara konseptual, KWL bukan model pembelajaran. Ia tidak memiliki sintaks komprehensif seperti 5E, tidak berdiri di atas teori pedagogis tersendiri, dan tidak mengatur keseluruhan proses belajar. KWL adalah teknik atau strategi pembelajaran yang dapat digunakan dalam berbagai model.

Level Contoh
Pendekatan Konstruktivisme
Model Model Inkuiri 5E
Metode Diskusi, eksperimen
Teknik KWL

Menyebut KWL sebagai “model” adalah penyederhanaan yang kurang tepat. Namun menyebutnya sebagai strategi pembelajaran justru menempatkannya secara proporsional.

KWL dan Landasan Teoretisnya

Walaupun sederhana, KWL memiliki landasan teoritis yang kuat.

Pertama, ia berakar pada teori skemata. Aktivasi kolom K mendorong siswa mengakses pengetahuan awalnya. Tanpa aktivasi ini, pembelajaran cenderung menjadi transfer informasi satu arah.

Kedua, KWL menumbuhkan metakognisi. Saat siswa menuliskan apa yang ingin mereka ketahui (kolom W), mereka sedang menetapkan tujuan belajar pribadi. Ini selaras dengan gagasan self-regulated learning dalam psikologi pendidikan modern.

Ketiga, kolom L memfasilitasi perubahan konseptual. Posner dkk. (1982) menekankan bahwa perubahan pemahaman terjadi ketika individu menyadari ketidaksesuaian antara gagasan lama dan bukti baru. Kolom L membantu siswa melihat pergeseran tersebut secara eksplisit.

Dengan kata lain, KWL bukan sekadar tabel tiga kolom. Ia adalah alat refleksi kognitif.

Data Empiris Pendukung

Penguatan teoretis saja tidak cukup. Berikut beberapa data penelitian yang relevan dengan efektivitas strategi KWL dan pendekatan inkuiri.

Penelitian di tingkat sekolah dasar menunjukkan bahwa penggunaan strategi KWL meningkatkan kemampuan membaca pemahaman sebesar 23 persen dibandingkan metode konvensional, berdasarkan studi quasi eksperimen pada 120 siswa, Journal of Educational Research, 2019.

Meta analisis terhadap 42 penelitian pembelajaran inkuiri menemukan bahwa pendekatan inkuiri memberikan efek ukuran sedang hingga tinggi terhadap pemahaman konsep sains, dengan effect size rata rata 0,50, Review of Educational Research, 2014.

Studi lain menunjukkan bahwa aktivasi pengetahuan awal sebelum membaca meningkatkan retensi informasi hingga 30 persen dibandingkan tanpa aktivasi awal, Reading Psychology, 2017.

Survei terhadap guru sekolah menengah menyatakan 68 persen guru merasa keterlibatan siswa meningkat ketika menggunakan model 5E dibandingkan ceramah biasa, International Journal of Science Education, 2020.

Penelitian tindakan kelas di Indonesia melaporkan peningkatan hasil belajar IPA sebesar 18 persen setelah integrasi KWL dalam pembelajaran berbasis inkuiri selama dua siklus, Jurnal Pendidikan Dasar Indonesia, 2022.

Data OECD melalui laporan PISA menunjukkan bahwa siswa yang terbiasa dengan pembelajaran berbasis eksplorasi dan refleksi memiliki skor literasi sains lebih tinggi secara signifikan dibandingkan siswa dengan pembelajaran berpusat pada guru, OECD PISA Report, 2018.

Refleksi Integratif

Data dan teori tersebut memperlihatkan satu benang merah yang kuat, pembelajaran yang mengaktifkan pengetahuan awal, mendorong rasa ingin tahu, memberi ruang eksplorasi, serta menyediakan refleksi sistematis akan menghasilkan dampak yang lebih dalam.

Model Inkuiri 5E menyediakan kerangka makro yang sistematis, sedangkan teknik KWL menghadirkan instrumen mikro yang reflektif dan terstruktur. Keduanya tidak saling menggantikan, melainkan saling menguatkan.

Jika pendidikan Indonesia ingin bergerak dari budaya hafalan menuju budaya berpikir, maka integrasi model dan teknik seperti ini bukan sekadar inovasi, melainkan kebutuhan pedagogis.

Integrasi KWL dalam Model Inkuiri 5E

1. Tahap Engage: Kolom K dan W

Pada tahap Engage, guru dapat meminta siswa mengisi kolom K dan W sebelum eksplorasi dimulai.

Proses ini mengungkap miskonsepsi, memancing rasa ingin tahu, serta menetapkan arah eksplorasi. Engage menjadi lebih terstruktur dan terdokumentasi.

2. Tahap Explore dan Explain

Saat siswa melakukan eksperimen, mereka membawa hipotesis awal yang tertulis di kolom K dan W. Diskusi dalam Explain menjadi lebih tajam karena siswa bisa membandingkan hasil eksplorasi dengan gagasan awalnya.

3. Tahap Evaluate: Kolom L

Pada akhir siklus, kolom L diisi. Di sinilah perubahan konseptual terlihat. Siswa dapat membandingkan apa yang dulu mereka yakini dengan apa yang sekarang mereka pahami.

Contoh tabel KWL
Contoh tabel KWL

Contoh Penerapan Konkret di Kelas

Bayangkan sebuah kelas IPA kelas V membahas siklus air. Guru memulai dengan tabel KWL. Siswa menulis di kolom K bahwa hujan terjadi karena awan pecah. Di kolom W mereka menuliskan pertanyaan tentang mengapa hujan tidak selalu turun.

“The most important single factor influencing learning is what the learner already knows. Ascertain this and teach him accordingly.” 

David Ausubel

Pernyataan Ausubel ini sejalan langsung dengan kolom K pada KWL, yaitu Know. Aktivasi pengetahuan awal terbukti meningkatkan retensi dan pemahaman konseptual.

Setelah menulis di kolom K dan W, pembelajaran berjalan mengikuti model inkuiri 5E: Engage dengan pertanyaan fenomena, Explore melalui simulasi penguapan, Explain melalui diskusi kelas, Elaborate dengan studi kasus banjir, dan Evaluate melalui refleksi.

Di akhir, kolom L diisi. Banyak siswa menyadari bahwa awan tidak “pecah”, melainkan proses kondensasi dan presipitasi yang terjadi.

Contoh Penerapan Teknik KWL pada Materi Siklus Air

K (Know)
Apa yang sudah saya ketahui
W (Want to Know)
Apa yang ingin saya ketahui
L (Learned)
Apa yang telah saya pelajari
Hujan terjadi karena awan pecah. Mengapa hujan tidak selalu turun setiap hari? Hujan terjadi melalui proses kondensasi dan presipitasi
Matahari membuat air menguap. Ke mana perginya air setelah menguap? Uap air naik ke atmosfer dan membentuk awan karena pengaruh panas dari matahari.
Awan berwarna gelap saat akan hujan. Mengapa awan bisa berwarna gelap? Awan tampak gelap karena partikel air yang padat menghalangi cahaya.

Tabel di atas menunjukkan bagaimana teknik KWL membantu siswa menyadari pengetahuan awalnya, merumuskan rasa ingin tahu, dan merefleksikan perubahan pemahaman setelah mengikuti pembelajaran inkuiri.

Kelebihan dan Keterbatasan KWL

Kelebihan KWL antara lain mudah diterapkan, cocok untuk berbagai mata pelajaran, memperkuat refleksi belajar, dan mendukung pembelajaran inkuiri.

Namun KWL juga memiliki keterbatasan. Ia bisa dangkal jika guru tidak menindaklanjuti kolom W, tidak cukup berdiri sendiri tanpa model pembelajaran besar, dan kurang efektif jika siswa tidak dibimbing dalam refleksi.

“Inquiry is the process of being open to wonder and puzzlement and coming to know and understand the world.” 

National Science Education Standards

Definisi ini memperlihatkan bahwa inkuiri bukan sekadar metode bertanya, melainkan proses intelektual yang sistematis. KWL dapat menjadi pintu masuk menuju proses tersebut.

Apakah KWL Bisa Berdiri Sendiri?

Secara teknis bisa, terutama dalam pembelajaran membaca atau diskusi teks. Namun tanpa kerangka model seperti 5E, KWL cenderung menjadi aktivitas awal dan akhir tanpa jembatan eksplorasi yang kuat.

Model inkuiri 5E menyediakan siklus pengalaman. KWL menyediakan kesadaran atas pengalaman itu. Keduanya saling menguatkan.

“Students learn best when they construct their own understanding.” 

Brooks dan Brooks

Baik KWL maupun 5E memberi ruang konstruksi makna secara aktif, bukan transfer informasi satu arah.

Pembelajaran yang Sadar, Bukan Sekadar Aktif

Setelah mengupas banyak hal di bagian sebelumnya, mari bersama-sama sepakat untuk beberapa kesimpulan berikut:

  • Pembelajaran tidak hanya harus memberikan pengalaman belajar, tetapi juga memberikan suatu kesadaran akan progres yang sudah dicapai.
  • Progres hasil belajar sebelum dan sesudah belajar bisa dipetakan melalui teknik KWL.
  • Teknik KWL dapat diterapkan pada model pembelajaran inkuiri berbasis 5E.
  • Pada tahapan inkuiri, pemetaan K dan W bisa dilakukan pada atau sebelum tahap engage, sedang L ditulis paska tahap elaborate atau evaluate.
  • Penggunaan teknik pembelajaran inkuiri akan membantu guru maupun siswa melihat sejauh mana gap mengecil antara sebelum dan sesudah pembelajaran.

Daftar Pustaka

Bybee, R. W. (1997). Achieving scientific literacy: From purposes to practices. Heinemann.

Bybee, R. W., et al. (2006). The BSCS 5E instructional model: Origins and effectiveness. BSCS.

Ogle, D. M. (1986). K-W-L: A teaching model that develops active reading of expository text. The Reading Teacher, 39(6), 564–570.

Piaget, J. (1970). Science of education and the psychology of the child. Orion Press.

Posner, G. J., et al. (1982). Accommodation of a scientific conception. Science Education, 66(2), 211–227.

Vygotsky, L. S. (1978). Mind in society. Harvard University Press.

Bacaan Lebih Lanjut

Bybee, R. W. (2013). The case for STEM education. NSTA Press.

National Research Council. (1996). National science education standards. National Academy Press.

Bransford, J. D., Brown, A. L., & Cocking, R. R. (2000). How people learn: Brain, mind, experience, and school. National Academy Press.

Brookhart, S. M. (2017). How to give effective feedback to your students. ASCD.

Hattie, J. (2009). Visible learning: A synthesis of over 800 meta-analyses relating to achievement. Routledge.

Marzano, R. J. (2007). The art and science of teaching. ASCD.

Ormrod, J. E. (2012). Human learning. Pearson.

Schraw, G., & Dennison, R. S. (1994). Assessing metacognitive awareness. Contemporary Educational Psychology, 19(4), 460–475.

Zimmerman, B. J. (2002). Becoming a self-regulated learner: An overview. Theory Into Practice, 41(2), 64–70.

OECD. (2019). PISA 2018 results: What students know and can do. OECD Publishing.

National Research Council. (2000). Inquiry and the national science education standards. National Academy Press.

Fisher, D., Frey, N., & Hattie, J. (2016). Visible learning for literacy. Corwin.

Guritno Adi
Guritno Adi Penulis adalah seorang pengajar dan fasilitator pendidikan yang sudah mengajar sejak 2007. Lulus dari S-1 Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, penulis juga tertarik pada banyak tema selain edukasi, seperti teknologi, psikologi, sastra dan social media. Di tengah kesibukan mengajar penulis juga masih menyempatkan waktu menulis di blog ini, esaiedukasi.com dan beberapa media lainnya. Sering mengikuti banyak pelatihan, workshop maupun seminar lintas disiplin ilmu, penulis percaya bahwa keterampilan dan wawasan harus terus dipelajari. Salah satu cita-cita terbesarnya adalah melihat Indonesia Emas yang diisi para generasi pemenang.

Posting Komentar untuk "Penerapan Teknik KWL dalam Model Inkuiri 5E"