Display Ad

Mengenal Pembelajaran Inkuiri

Banyak ditemui kasus seperti ini: saat guru memberikan siswa otonomi untuk mengeksplorasi pengetahuan dan materi, yang terjadi adalah kebingungan dan bahkan kekacauan massal. Alhasil bagi siswa yang ingin belajar tetapi terjebak pada situasi ini, lantas menganggap guru tidak becus mengajar. Di lain pihak,  bagi guru yang tidak menguasai materi atau malas mengajar menganggap ini sebagai sebuah celah untuk bersantai-santai. Mengerikan bukan?

Dalam artikel kali ini, esaiedukasi.com sebagai web pendidikan di Indonesia ingin memperkenalkan sesuatu yang seharusnya bukan barang baru lagi; pembelajaran inkuiri. Di artikel ini, kita akan bahas apa itu pembelajaran inkuiri dan mengapa istilah itu pada akhirnya bisa menyelamatkan siswa maupun guru dari situasi di atas. Selamat membaca. 

Daftar Isi

Mengenal pembelajaran inkuiri
Mengenal pembelajaran inkuiri

Poin utama pembahasan kita adalah mengenai pembelajaran inkuiri. Jelas ini topik yang luas, namun untuk saat ini kita akan fokus pada tiga hal: Apa itu pembelajaran inkuiri; latar belakang dan sejarah perkembangan pembelajaran inkuiri; dan mengapa pembelajaran inkuiri penting untuk dipahami dengan benar serta tepat.

Apa Itu Pembelajaran Inkuiri?

Inkuiri bukan sekadar memberi keleluasaan kepada siswa untuk belajar sesuka hati, melainkan proses terarah di mana siswa didorong untuk bertanya, mencari, menguji, dan menemukan jawaban melalui pengalaman belajar yang nyata.

Pendidikan di Indonesia, diakui atau tidak, sering membingungkan. Salah satu faktor utamanya, selain gonta-ganti kebijakan, adalah terlalu banyaknya istilah-istilah yang terdengar keren dan fancy, tetapi kurang dimaknai secara mendalam.

Ambil contoh istilah-istilah berikut: ANBK, AN, TKA, USP, UTB, SAS, SAJ, SAT, dan Sumatif. Intinya memang penilaian atau asesmen, tetapi kemudian bisa sangat membingungkan. Belum lagi di ranah strategi pembelajaran: ada pendekatan sainstifik, model montessori hingga yang akan kita bahas: pembelajaran inkuiri.

Mungkin sebagian besar guru sudah sangat familiar dengan ini. Di kampus, topik pembelajaran inkuiri juga nampaknya laris manis jadi obyek skripsi mahasiswa FKIP (Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan). Namun terlepas dari itu semua, sebenarnya apa itu pembelajaran inkuiri? Bagaimana dan mengapa topik ini harus dibahas dengan sudut pandang yang benar?

Definisi Pembelajaran Inkuiri
Definisi Pembelajaran Inkuiri

Sudah banyak blog atau artikel yang membahas definisi pembelajaran inkuiri menurut para ahli atau penulis masing-masing. 

Menurut esaiedukasi.com, inti pembelajaran inkuiri adalah kebebasan yang terstruktur. Inkuiri bukan sekadar memberi keleluasaan kepada siswa untuk belajar sesuka hati, melainkan proses terarah di mana siswa didorong untuk bertanya, mencari, menguji, dan menemukan jawaban melalui pengalaman belajar yang nyata. Di dalamnya, siswa tidak hanya menerima informasi, tetapi secara aktif membangun pemahaman dan merefleksikannya dalam kerangka tujuan pembelajaran yang jelas.

Definisi tentang inkuiri memang beragam dan tersedia luas. Namun dalam artikel ini, esaiedukasi.com mengambil posisi yang jelas: inkuiri adalah kebebasan yang terstruktur, bukan pembelajaran yang dibiarkan berjalan tanpa arah.

Ingat, artikel ini bukan sebuah skripsi kaku. Blog esaiedukasi.com membebaskan dan bahkan mendorong para pembaca yang menginginkan definisi inkuiri dari para ahli, baik itu dalam maupun luar negeri, untuk aktif mencari dari sumber lain yang juga kredibel. Meski demikian, esaiedukasi.com akan fokus membahas tiga hal utama yang sudah tertulis di bagian awal artikel ini. 

Ceramah Vs Inkuiri

Anda akan menemukan banyak sekali skripsi yang mengkomparasikan dua hal ini, ceramah dan inkuiri. Keduanya sering dipandang berseberangan, bahkan saling berlawanan. Benarkah demikian? Semua tergantung setidaknya empat hal: buku yang Anda baca, cara anda melihat keduanya, sejauh mana pemahaman anda terhadap keduanya dan siapa yang memberi tahu Anda tentang keduanya. 

Jika yang dimaksud dengan ceramah adalah melulu 2 jam pelajaran dihabiskan dengan siswa duduk mendengar guru bercerita, lalu sesekali menjawab pertanyaan yang diajukan, maka memang tepat bahwa metode ceramah berlawanan dengan metode inkuiri. Ingat, kita sudah membahas satu hal: dalam inkuiri ada keterlibatan aktif siswa dalam mencari pengetahuan. Duduk mendengar guru membacakan PPT sama sekali bukan tindakan aktif mencari pengetahuan. 

Untuk merangkum itu semua, mari kita lihat tabel berikut ini.

Perbedaan Inkuiri Ceramah
Posisi Guru Salah satu sumber belajar sekaligus fasilitator pembelajaran Satu-satunya sumber belajar
Posisi Siswa Subyek pembelajaran, pelaku aktif pembelajaran Pendengar, penerima materi
Aktivitas Pencarian pengetahuan melalui namun, tidak terbatas pada hal berikut; eksperimen, studi kasus, studi pustaka, praktik langsung Mendengar, dengan variasi kegiatan seperti menjawab soal, menyalin, mencatat dan sejenisnya

Namun jika kita berbicara mengenai sintaks pembelajaran inkuiri 5E, terdapat fase engage, yaitu ketika guru secara kreatif memberikan landasan pengetahuan berupa pertanyaan bertipe tantangan, agar siswa mencari jawabannya. Bagian ini bisa dilihat sebagai bentuk lain dari ceramah, meski tentunya durasinya tidak boleh terlalu panjang. 

Lebih lanjut, inkuiri akan sangat berhasil jika siswa memiliki pengetahuan dasar yang kuat. Ini terkait dengan sesi kegiatan belajar mengajar sebelumnya. Misal, dalam pertemuan ke-4, secara inkuiri siswa mencari tahu mana saja material yang bisa dipengaruhi oleh magnet. Tentunya mereka harus tahu terlebih dahulu, apa itu magnet dan sifat-sifatnya. Ini bisa didapatkan jika pada pertemuan awal, misal pertemuan ke-3, guru melakukan ceramah kreatif tentang hal ini. 

Jadi, persoalannya bukan memilih ceramah atau inkuiri. Persoalannya adalah: siapa yang paling aktif membangun pengetahuan di kelas, guru atau siswa? Di sinilah inti perubahan paradigma itu terjadi. Inkuiri bukan sekadar mengganti metode, tetapi menggeser pusat gravitasi pembelajaran: dari guru sebagai sumber utama, menjadi siswa sebagai pencari pengetahuan.

Merubah Paradigma: Siswa Adalah Pencari Pengetahuan

Hal paling mudah untuk menjelaskan penerapan inkuiri adalah membandingkannya dengan metode ceramah. Perhatikan tabel berikut.

Metode
Inkuiri (5E) Ceramah
  1. Guru menjelaskan kegiatan hari ini, yaitu mencari tahu benda-benda apa saja yang terpengaruh gaya magnet.
  2. Siswa membuat percobaan, yakni mendekatkan beberapa barang berikut: klip kertas, kawat tembaga, kertas manila, botol plastik, tali sepatu, gunting, pensil dan batang besi pada magnet. Siswa mencatat masing-masing respon benda ketika didekatkan pada magnet, mengalami tarikan atau tidak. 
  3. Siswa kemudian mempresentasikan hasilnya.
  4. Guru mengkaitkan hal tersebut dalam dunia nyata, bagaimana sifat beberapa benda yang terpengaruh medan magnet dapat dimanfaatkan untuk kehidupan sehari-hari. Diskusi terjadi dengan siswa secara aktif mengemukakan pendapatnya.
  5. Guru mengevaluasi pembelajaran dan hasil belajar yang dicapai siswa melalui pemberian kuis. 
  1. Guru menjelaskan apa itu medan magnet dan benda-benda yang dapat terpengaruh oleh magnet.
  2. Dengan bantuan PPT siswa mencoba memahami penjelasan guru.
  3. Guru memberikan beberapa pertanyaan di setiap sub bagian tertentu.
  4. Di akhir pembelajaran, siswa diminta mengerjakan kuis berdasarkan penjelasan dari guru.

Di atas adalah perbandingan metode pembelajaran ceramah vs inkuiri dengan materi yang sama dan (anggap saja) siswa, tempat, durasi dan kondisi yang sama. Jadi penekanan ada pada perbedaan metode.

Mungkin sekilas kita bisa memilih mana pembelajaran yang lebih seru, tentu saja yang menggunakan metode inkuiri. Namun apakah semua guru mau memilih metode ini, jika hanya ada dua metode yang jadi opsi? Belum tentu. 

Metode inkuiri itu melelahkan. Guru harus setidaknya melakukan 4 hal ini:

  1. Mempersiapkan alat dan bahan.
  2. Melakukan pengamatan aktif: berkeliling ke masing-masing siswa, menjawab pertanyaan di tengah proses eksplorasi, membantu siswa yang butuh bantuan dan termasuk juga mencatat.
  3. Memotivasi siswa dengan memberikan pertanyaan pemantik yang menarik.
  4. Memfasilitasi jalannya diskusi dengan menggali seberapa jauh siswa dapat mengkaitkan pengetahuan yang baru saja ia dapatkan.
Andai sebuah zaman, inkuiri adalah zaman baru yang penuh misteri. Untuk memasukinya, orang harus bersiap pada hal-hal yang membuat mereka keluar dari zona nyaman. Inkuiri membutuhkan guru-guru yang punya paradigma baru dalam melihat proses pembelajaran.

Bagi sebagian guru, sulit untuk memasuki paradigma baru ini, di mana siswa ditempatkan sebagai pencari pengetahuan sekaligus subyek pembelajaran. Itu karena memang pada dasarnya salah satu inti dari pendidikan adalah proses transfer ilmu dari guru ke siswa.

Meski demikian, seiring dengan perkembangan zaman dan hadirnya aneka teknologi, guru wajib memiliki paradigma ini. Siswa kita, generasi Z, Alfa dan Beta, tidak hadir ke kelas dengan zero knowledge. Mereka telah memiliki bibit-bibit pengetahuan. 

Lebih dari itu, paradigma baru yang harus dibangun adalah memposisikan guru sebagai fasilitator pendidikan, yang memfasilitasi siswa untuk pada akhirnya membimbing siswa menemukan dan mengonstruksi pemahamannya sendiri.

Bersiap Menuju Level Selanjutnya

Peningkatan kualitas pembelajaran seharusnya berbanding lurus dengan peningkatan kognitif dan seharusnya juga psikomotorik siswa. Meninggalkan metode ceramah di mana guru hanya membacakan teks dari buku lalu menyuruh siswa menyalin catatan (sebuah horor yang masih saja terjadi di zaman ini) menuju pembelajaran yang menyenangkan, bermakna dan berkesadaran adalah sebuah kenaikan level. Dan guru harus bangga jika sudah melakukan hal itu. 

Untuk menuju level selanjutnya, maka setidaknya ada tiga hal yang dibutuhkan:

  • Persiapan yang matang
  • Materi yang terukur
  • Instruksi yang jelas

Ketiganya saling terkait dan menjadi landasan utama sebelum siswa berpetualang menjadi seorang pencari pengetahuan.  

Tanpa ketiga hal tersebut, yang ada hanyalah kenekatan dan berpotensi menjerumuskan kelas menuju kondisi chaos. Kebingungan. Buang-buang waktu. Anak tidak mendapat apapun. Guru gagal menuntaskan kewajibannya. Pembelajaran jadi sia-sia. Gagal total. 

Latar Belakang dan Sejarah Pembelajaran Inkuiri

Ada dua jenis latar belakang dalam kasus ini. Pertama; latar belakang dari lahirnya pembelajaran berbasis inkuiri dan kedua; latar belakang kenapa penting memahami dan menerapkan pembelajaran inkuiri. Mari kita mulai dari yang pertama. 

Landasan Teori dan Filosofis

Pembelajaran inkuiri bukanlah produk kurikulum baru, apalagi tren sesaat yang lahir dari perubahan kebijakan pendidikan. Akar pemikirannya justru jauh lebih tua, berakar pada tradisi filsafat pendidikan progresif yang berkembang sejak akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20. Salah satu tokoh yang paling sering dikaitkan dengan pendekatan ini adalah John Dewey. Dalam karyanya Democracy and Education (1916), Dewey menekankan bahwa belajar bukanlah proses menerima informasi secara pasif, melainkan proses aktif yang tumbuh dari pengalaman dan refleksi.

Dewey percaya bahwa sekolah seharusnya menjadi miniatur masyarakat, tempat siswa belajar melalui problem nyata, bukan sekadar mendengarkan penjelasan guru. Ia menulis bahwa pendidikan harus berangkat dari pengalaman yang bermakna, lalu diolah melalui proses berpikir reflektif. Gagasan ini menjadi fondasi penting bagi lahirnya pembelajaran berbasis inkuiri: siswa tidak diberi jawaban, tetapi dibimbing untuk menemukan.

Sejalan dengan Dewey, pemikiran konstruktivisme juga memberi landasan kuat bagi inkuiri. Tokoh seperti Jean Piaget menjelaskan bahwa pengetahuan tidak ditransfer begitu saja dari guru ke siswa. Pengetahuan dibangun secara aktif melalui interaksi dengan lingkungan. Dalam teori perkembangan kognitifnya, Piaget menegaskan bahwa anak belajar melalui proses asimilasi dan akomodasi. Artinya, ketika siswa melakukan eksplorasi atau eksperimen, mereka sebenarnya sedang membangun struktur berpikirnya sendiri.

Landasan Teori dan Filosofis Inkuiri
Landasan Teori dan Filosofis Inkuiri

Selain Piaget, nama Lev Vygotsky juga relevan dalam memahami landasan inkuiri. Konsep Zone of Proximal Development (ZPD) menunjukkan bahwa siswa dapat mencapai tingkat pemahaman yang lebih tinggi dengan dukungan atau scaffolding dari orang yang lebih ahli. Dalam konteks inkuiri, guru bukan lagi pusat informasi, melainkan fasilitator yang menyediakan dukungan terarah agar proses pencarian siswa tetap berada dalam koridor tujuan pembelajaran.

Perkembangan selanjutnya terlihat jelas pada pemikiran Jerome Bruner yang secara eksplisit mengusulkan discovery learning. Dalam bukunya The Process of Education (1960), Bruner menegaskan bahwa pembelajaran akan lebih bermakna jika siswa menemukan sendiri konsep-konsep penting melalui proses eksplorasi. Gagasan inilah yang kemudian banyak memengaruhi desain kurikulum sains modern dan model-model pembelajaran inkuiri.

Dalam konteks pendidikan sains, pembelajaran inkuiri semakin mendapatkan legitimasi melalui berbagai laporan akademik internasional. Salah satu yang cukup berpengaruh adalah laporan dari National Research Council berjudul Inquiry and the National Science Education Standards (2000). Laporan ini menegaskan bahwa inkuiri bukan hanya metode mengajar, melainkan cara ilmuwan bekerja: mengajukan pertanyaan, merancang investigasi, mengumpulkan data, dan menarik kesimpulan berdasarkan bukti.

Secara filosofis, inkuiri berakar pada pandangan epistemologis bahwa pengetahuan bersifat dinamis dan terbuka untuk diuji. Dalam tradisi pragmatisme, yang juga diwakili oleh Dewey, kebenaran tidak dipandang sebagai sesuatu yang statis, melainkan hasil dari proses pengujian melalui pengalaman. Maka tidak mengherankan jika pembelajaran inkuiri menempatkan pertanyaan sebagai titik awal, bukan jawaban.

Di Indonesia sendiri, semangat inkuiri sebenarnya telah lama tercermin dalam berbagai kebijakan kurikulum, meski dengan istilah yang berbeda-beda. Pendekatan saintifik dalam Kurikulum 2013 maupun penekanan pada pembelajaran berbasis proyek dan diferensiasi dalam Kurikulum Merdeka menunjukkan arah yang sejalan dengan prinsip inkuiri: siswa mengamati, menanya, mencoba, menalar, dan mengomunikasikan.

Melihat latar belakang historis dan filosofis tersebut, menjadi jelas bahwa pembelajaran inkuiri bukanlah eksperimen tanpa dasar. Ia berdiri di atas fondasi teori perkembangan kognitif, konstruktivisme sosial, pragmatisme, serta praktik ilmiah modern. Dengan kata lain, ketika guru menerapkan inkuiri secara tepat, ia tidak sedang mengikuti tren, melainkan sedang melanjutkan tradisi pemikiran pendidikan yang telah teruji lebih dari satu abad.

Dan di sinilah pentingnya memahami inkuiri secara utuh. Tanpa pemahaman terhadap akar filosofis dan teoretisnya, inkuiri mudah direduksi menjadi sekadar “siswa bekerja kelompok” atau “guru memberi tugas eksplorasi.” Padahal, di baliknya terdapat kerangka berpikir yang serius tentang bagaimana manusia belajar, berpikir, dan membangun pengetahuan.

Inkuiri Dalam Kurikulum Merdeka

Kurikulum Merdeka sebagai kelanjutan dari KTSP hadir dengan semangat pembelajaran inkuiri yang kuat. Semangat merdeka belajar sangat erat kaitannya dengan karakteristik inkuiri. Siswa diberi kesempatan seluas-luasnya untuk mengeksplorasi dirinya dan materi yang ada. 

Jika kita menelusuri kembali akar pemikiran John Dewey, Jean Piaget, hingga Jerome Bruner, kita akan melihat satu benang merah yang konsisten: siswa belajar paling baik ketika mereka aktif membangun pengetahuan melalui pengalaman yang bermakna. Pertanyaannya kemudian sederhana namun krusial: apakah semangat itu hadir dalam sistem pendidikan kita hari ini?

Dalam konteks Indonesia, semangat tersebut sebenarnya cukup terasa dalam implementasi Kementerian Pendidikan Kebudayaan Riset dan Teknologi melalui kebijakan Kurikulum Merdeka. Kurikulum ini membawa narasi besar tentang pembelajaran yang berpusat pada murid, diferensiasi, dan penguatan Profil Pelajar Pancasila. Di atas kertas, arah ini sangat selaras dengan filosofi inkuiri.

Kurikulum Merdeka menekankan pentingnya deep learning, pemahaman konseptual, dan proyek berbasis masalah. Dalam praktiknya, guru didorong untuk tidak lagi sekadar menuntaskan materi, melainkan merancang pengalaman belajar yang memberi ruang bertanya, mengeksplorasi, dan merefleksikan. Bukankah ini inti dari inkuiri?

Namun, di sinilah letak tantangannya. Inkuiri dalam Kurikulum Merdeka bukan berarti guru melepas kendali. Justru sebaliknya. Guru dituntut memiliki perencanaan yang jauh lebih matang: merumuskan tujuan pembelajaran yang jelas, menyusun alur tujuan pembelajaran (ATP), serta merancang asesmen formatif yang benar-benar mengukur proses berpikir, bukan hanya hasil akhir.

Sering kali, kesalahpahaman muncul ketika kata “merdeka” ditafsirkan sebagai “bebas tanpa batas”. Padahal dalam kerangka Kurikulum Merdeka, kebebasan selalu berjalan berdampingan dengan tanggung jawab profesional. Di sinilah konsep “kebebasan yang terstruktur” menjadi sangat relevan. Inkuiri tidak identik dengan kelas yang riuh tanpa arah, melainkan kelas yang hidup karena siswa berpikir.

Jika kita cermati lebih dalam, pendekatan seperti pembelajaran berbasis proyek (PjBL), 3 kerangka utama deep learning, hingga asesmen diagnostik dalam Kurikulum Merdeka memiliki irisan kuat dengan prinsip inkuiri. Siswa diajak mengidentifikasi masalah, merancang solusi, menguji gagasan, dan mempresentasikan hasil. Semua itu adalah praktik ilmiah dalam bentuk pedagogis.

Namun implementasi di lapangan tentu tidak selalu mulus. Ada guru yang masih mencari ritme. Ada yang merasa terbebani administrasi. Ada pula yang sebenarnya ingin berubah, tetapi belum cukup percaya diri. Di titik inilah pemahaman terhadap akar filosofis inkuiri menjadi penting. Guru tidak sekadar mengikuti kebijakan, tetapi memahami mengapa perubahan itu perlu.

Dengan demikian, inkuiri dalam Kurikulum Merdeka bukanlah tambahan baru dalam daftar istilah pendidikan kita. Ia adalah ruh yang seharusnya menghidupkan kelas. Ketika dipahami dengan benar, ia membantu guru naik level: dari penyampai materi menjadi perancang pengalaman belajar.

Dan mungkin di sinilah refleksi terpentingnya: Kurikulum boleh berganti nama. Istilah boleh berubah. Tetapi cara manusia belajar, melalui bertanya, mencoba, gagal, memperbaiki, dan menemukan, tetaplah sama. Tugas kita bukan sekadar menyesuaikan diri dengan kebijakan, melainkan memastikan bahwa setiap kebijakan benar-benar diterjemahkan menjadi pembelajaran yang bermakna.

Memahami dengan Tepat Pembelajaran Inkuiri

Pembelajaran inkuiri sering dipuji, tetapi juga sering disalahpahami. Sebagian guru menganggapnya sebagai metode yang pasti lebih unggul dari ceramah. Sebagian lain justru menghindarinya karena dianggap berisiko membuat kelas tidak terkendali. Keduanya lahir dari pemahaman yang belum utuh.

Secara empiris, efektivitas inkuiri memang tidak otomatis terjadi. Studi meta-analisis oleh John Hattie dalam Visible Learning (2009) menunjukkan bahwa strategi pembelajaran berbasis investigasi memiliki dampak yang signifikan terhadap hasil belajar, terutama ketika disertai dengan umpan balik yang jelas dan tujuan pembelajaran yang terdefinisi dengan baik. Artinya, inkuiri efektif bukan karena “kebebasannya”, tetapi karena desain dan intervensi guru yang terukur.

Hal serupa ditegaskan oleh laporan National Research Council (2000) yang menyatakan bahwa inkuiri dalam pendidikan sains harus mencakup kemampuan mengajukan pertanyaan, merancang investigasi, menggunakan bukti, dan mengomunikasikan hasil. Tanpa struktur tersebut, aktivitas eksplorasi tidak dapat disebut sebagai inkuiri ilmiah.

Dengan demikian, memahami inkuiri secara tepat berarti melihatnya sebagai pendekatan yang berbasis bukti, bukan sekadar pendekatan yang terlihat modern.

Inkuiri bukan Menjerumuskan Siswa ke Dalam Chaos

Perhatikan skenario mengerikan berikut ini:

Pak Tomi mendapat instruksi dari KS untuk melakukan pembelajaran berbasis inkuiri. Topik saat itu adalah tentang keanekaragaman hayati. Pak Tomi meminta siswa pergi ke luar kelas, lalu mendata semua hewan dan tumbuhan yang ada. Dua jam dihabiskan Pak Tomi dengan duduk di kelas sambil melakukan kegiatan administratif, sementara di luar kelas, dua orang siswa adu pukul. Beberapa siswa lain pergi ke kantin. Seorang siswi asyik scrolling medsos dan bahkan tiga siswa paling pintar hanya duduk sambil mengobrol di bawah pohon jambu. 

Saat bel berbunyi, Pak Tomi meminta semua masuk ke kelas kembali dan bercerita apa saja hasil kerja mereka. Sebagian mengarang indah, tapi mayoritas tergagap-gagap, menganggap bahwa apa yang mereka lakukan bukanlah pembelajaran. Lebih mirip jam kosong tetapi ada guru. 

Apa yang terjadi pada Pak Tomi bisa terjadi pada guru manapun bahkan mungkin skenarionya bisa lebih buruk. Guru tergagap-gagap mengendalikan kelas, siswa jatuh ke dalam anarki, pembelajaran jadi terbengkalai dan untuk mengendalikan itu semua guru meledak-ledak, hanyut dalam emosi. Akhirnya, besok kelas kembali pada mode default: ceramah 2 jam sambil membahas soal-soal.

Memahami penerapan pembelajaran inkuiri
Memahami penerapan pembelajaran inkuiri

Kekhawatiran bahwa inkuiri akan membuat kelas kacau sebenarnya bukan tanpa alasan. Penelitian oleh Richard E. Mayer (2004) tentang guided discovery learning menunjukkan bahwa pembelajaran penemuan yang minim arahan (pure discovery) cenderung kurang efektif dibandingkan pembelajaran penemuan yang dibimbing. Mayer bahkan menegaskan bahwa “guided methods of instruction” secara konsisten menghasilkan pemahaman yang lebih baik dibanding pendekatan yang sepenuhnya lepas kontrol.

Temuan ini penting. Ia tidak menolak inkuiri. Justru mempertegas bahwa inkuiri membutuhkan guidance.

Kembali pada teori Lev Vygotsky, proses belajar optimal terjadi ketika siswa berada dalam Zone of Proximal Development, wilayah di mana mereka mampu memahami sesuatu dengan dukungan yang tepat. Tanpa dukungan itu, siswa bukan sedang belajar mandiri, melainkan berjuang sendirian.

Jadi jika sebuah kelas berubah menjadi chaos, kemungkinan besar bukan karena inkuirinya salah, tetapi karena tingkat bimbingannya tidak memadai.

Aku Mendengar, Mencoba, Mencari, dan Menemukannya

I hear and I forget, I do and I understand
-Konfunsius

Data internasional juga menunjukkan bahwa pembelajaran yang mendorong keterlibatan aktif siswa berkorelasi dengan pemahaman konseptual yang lebih dalam. Laporan Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD) melalui studi PISA berulang kali menekankan pentingnya student agency dan kemampuan berpikir kritis sebagai indikator kesiapan abad ke-21.

Namun, OECD juga mencatat bahwa praktik inkuiri yang tidak terarah dapat menurunkan hasil jika tidak disertai dukungan pedagogis yang memadai. Ini menguatkan satu kesimpulan penting: aktivitas saja tidak cukup. Refleksi dan struktur tetap diperlukan.

Dalam konteks ini, pepatah yang sering dikaitkan dengan Konfusius: “I hear and I forget, I do and I understand”, menjadi relevan bukan sebagai slogan, tetapi sebagai ilustrasi sederhana tentang bagaimana pengalaman langsung memperkuat memori dan pemahaman. Namun pengalaman itu harus dirancang.

Ceramah Aktivitas Peran Siswa
Ceramah Pasif, siswa hanya mendengar
Tugas Membaca Teks Pasif, siswa hanya mendapatkan informasi dari teks
Menjawab Soal Secara Verbal Semi-aktif, namun hanya sebagian siswa saja yang terlibat dan aktivitas terbatas pada recalling/mengingat kembali penjelasan
Inkuiri (5E) Aktivitas Peran Siswa
Guru memberikan pertanyaan pemantik Semi-aktif, siswa mendengar sekaligus mulai berpikir dan berhipotesa
Siswa melakukan eksplorasi dengan percobaan Akif, siswa melakukan praktik pengetahuan yang didapat sebelumnya sambil mencari (setidaknya membuktikan) pengetahuan baru.
Penjelasan/presentasi Aktif, siswa menjelaskan dengan seksama praktik yang telah dilakukan. Ada aktivitas berbicara, berdiskusi, mendengar secara aktif dan bertanya-jawab.
Elaborasi Siswa dan guru secara aktif berdiskusi untuk mengkaitkan pengetahuan yang telah dipelajari dalam konteks nyata sehari-hari.
Evaluasi Siswa mengerjakan kuis sederhana berdasarkan apa yang telah dilakukan.

Inkuiri yang matang membuat siswa tidak hanya mendengar atau melihat, tetapi mencoba, menguji, dan merefleksikan. Di situlah terjadi konstruksi pengetahuan.

Maka memahami inkuiri secara tepat berarti menyadari satu hal mendasar: tujuan akhirnya bukan membuat kelas ramai, melainkan membuat proses berpikir siswa menjadi lebih dalam, lebih sistematis, dan lebih sadar. Dan itu hanya mungkin terjadi ketika kebebasan berjalan bersama struktur.

Konklusi dan Penutup 

Saatnya Ambil Keputusan

Esaiedukasi.com berkomitmen menghadirkan refleksi pedagogis yang berpijak pada teori, riset, dan praktik nyata di ruang kelas Indonesia. Setiap artikel dalam seri ini ditulis bukan sekadar untuk menjelaskan konsep, tetapi untuk mengajak pembaca menimbang ulang cara berpikir tentang pembelajaran.

Jika gagasan dalam tulisan ini relevan bagi Anda, bagikan dan diskusikan agar percakapan tentang pendidikan Indonesia terus bertumbuh. Perubahan tidak lahir dari satu suara, melainkan dari dialog yang terbuka dan berkesinambungan.

Sebab pendidikan yang kuat tidak dibangun oleh slogan atau pergantian istilah, tetapi oleh refleksi yang jernih, diskusi yang dewasa, dan praktik yang terus diperbaiki.

Referensi & Bacaan Lanjutan

Artikel ini bertumpu pada pemikiran John Dewey tentang refleksi dan pengalaman belajar, Jerome Bruner mengenai discovery learning dan struktur disiplin ilmu, Lev Vygotsky tentang konstruksi sosial pengetahuan, serta analisis efektivitas pembelajaran berbasis evidensi dari John Hattie

Sintaks dan karakteristik pembelajaran inkuiri juga merujuk pada dokumen resmi National Research Council serta kebijakan implementasi Kurikulum Merdeka dan naskah akademik pembelajaran mendalam yang diterbitkan oleh Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah Republik Indonesia.

Dewey, J. (1916). Democracy and Education. New York: Macmillan.

Bruner, J. S. (1960). The Process of Education. Cambridge, MA: Harvard University Press.

Vygotsky, L. S. (1978). Mind in Society. Cambridge, MA: Harvard University Press.

National Research Council. (2000). Inquiry and the National Science Education Standards. Washington, DC: National Academies Press.

Hattie, J. (2009). Visible Learning. London: Routledge.

Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah Republik Indonesia. (2022). Panduan Implementasi Kurikulum Merdeka. Jakarta: Kemendikdasmen.

Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah Republik Indonesia. (2025). Naskah Akademik Pembelajaran Mendalam (Deep Learning). Jakarta: Kemendikdasmen.

Guritno Adi
Guritno Adi Penulis adalah seorang pengajar dan fasilitator pendidikan yang sudah mengajar sejak 2007. Lulus dari S-1 Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, penulis juga tertarik pada banyak tema selain edukasi, seperti teknologi, psikologi, sastra dan social media. Di tengah kesibukan mengajar penulis juga masih menyempatkan waktu menulis di blog ini, esaiedukasi.com dan beberapa media lainnya. Sering mengikuti banyak pelatihan, workshop maupun seminar lintas disiplin ilmu, penulis percaya bahwa keterampilan dan wawasan harus terus dipelajari. Salah satu cita-cita terbesarnya adalah melihat Indonesia Emas yang diisi para generasi pemenang.

Posting Komentar untuk "Mengenal Pembelajaran Inkuiri "