Sejarah dan Perkembangan Metode Flipped Classroom

Sejarah dan Perkembangan Metode Flipped Classroom




[Metode Flipped Classroom | latar belakang dan perkembangannya] Sebuah era baru dalam peradaban manusia sudah datang, era industri 4.0. Mau tak mau dunia pendidikan juga harus bersiap menghadapinya. Salah satu diantaranya adalah dengan memperkaya variasi metode pembelajaran.

Flipped Classroom sebagai sebuah metode pembelajaran nampaknya makin menempati posisi yang istimewa. Setelah kemunculannya yang menghebohkan di tahun 2000, metode ini menjalar ke seluruh dunia dan ‘menginfeksi’ sistem pendidikan nasional berbagai negara. Kelebihannya membuat para direktur sekolah dan supervisor pendidikan berlomba-lomba memakainya. Tetapi keterbatasannya juga kerap mengundang kritik, terutama dari para guru di negara berkembang yang belum menikmati banjir fasilitas.

ilustrasi flipped classroom, mempelajari materi dari rumah  
Kali ini esai edukasi dot com sebagai sahabat para guru dan pendidik ingin mengajak pembaca semua untuk membahas bersama seperti apa metode yang kerap dianggap sebagai salah satu yang paling tepat bagi era education 4.0 seperti sekarang.

Latar Belakang.

Sebenarnya metode yang bernama flipped classroom ini bukan barang baru lagi. Hanya saja karena hal ini mungkin baru mulai dikenal di negara kita pada pertengahan tahun 2000an, lalu mengganggap hal ini sebagai sebuah ‘penemuan yang menghebohkan’ yang membuat semua dosen di FKIP maupun fakultas lainnya yang mengenal istilah ini lebih dahulu daripada mahasiswanya lalu mengkhotbahkannya sedemikian rupa sehingga gaungnya seakan-akan ini adalah hal yang ‘sangat fantastis’.

Memang inilah nampaknya kebiasaan di negara berkembang dan tidak sepenuhnya salah juga. Jonathan Bergman dan Aaron Sams memang baru ‘melahirkan tutorial’ daripada flipped classroom tersebut di tahun 2007.

Juga baru di tahun 2016 juga MEF University, sebuah perguruan tinggi dari Turki merilis "The Flipped Approach to Higher Education: Designing Universities for Today's Knowledge Economies and Societies". Seperti diketahui, kampus di Istambul itu memang jadi kampus pertama di dunia yang menggunakan ‘sepenuhnya’ metode flipped classroom.

Tapi nyatanya secara esensi metode flipped classroom sudah sejak lama ada dan diaplikasikan. Tentu saja di belahan bumi barat. Tepuk tangan untuk gaya pendidikan old school kita yang mudah gagap pada perkembangan teknologi.

Inti dari Flipped Classroom.

ilustrasi penggunaan komputer untuk menunjang flipped classroom
Adapun intisari dari flipped classroom adalah membalik cara penyampaian materi, bukan pada saat tatap muka antara guru dan murid, melainkan sebelum hari itu terjadi. Hal ini pada akhirnya bertujuan sebagai sebuah upaya efektifitas waktu sehingga sang profesor atau guru mejadi lebih mudah untuk mengeksplorasi materi bersama dengan siswa daripada hanya sekedar memulai untuk membahas materi itu satu demi satu.

Hal ini sesuai dengan ide dari Alison King yang pada tahun 1993 mempublikasikan karyanya berjudul From Sage on the Stage to Guide on the Side. Walau tidak secara langsung menyebut kata flipped classroom, ia dengan luar biasa mengungkapkan bagaimana pentingnya efektifitas waktu. Ia berpendapat bahwa menggunakan waktu tatap muka untuk membangun pemahaman jauh lebih penting daripada hanya sekedar transfer informasi.

Lalu di tahun 1997, Profesor Eric Mazur dari salah satu kampus termahsyur di dunia, Harvard, menerbitkan Peer Instruction: A User's Manual. Pendekatan Peer Instruction inilah yang nantinya menjadi landasan (diakui atau tidak) bagi flipped classroom. Ia mengubah alur pembelajaran yang mirip dengan Alison King. Melakukan transfer informasi di luar kelas dan di dalam kelas bisa leluasa melakukan asimilasi materi bersama muridnya.




Melompat ke tahun 2000, trio Lage, Platt dan Treglia menerbitkan Inverting the Classroom: A Gateway to Creating an Inclusive Learning Environment. Bersama dengan Universitas Wisconsin-Madison, mereka memproduksi software sarana edukasi lainnya untuk menunjang variasi belajar siswa yang begitu beragam. Ini adalah sebuah lompatan dari sebelumnya, dimana teknologi akhirnya menjadi penolong untuk mempermudah dan mempercepat penyampaian materi.

Progres dari para edukator luar negeri itu semakin disempurnakan oleh Kaw dan Hess melalui perkawinan antara proses belajar mengajar dan penggunaan web sekitar tahun 2007. Juga oleh Salman Khan yang membuat rekaman video tutorial untuk sepupunya. Hingga akhirnya dua orang guru dari Woodland Park High School, Jonathan Bergmann dan Aaron Sams , merekam kelas mereka dengan tujuan awal agar murid-murid yang absen tidak tertinggal materi.
Aaron Sams dan Jonathan Bergman dari Woodland High School
Metode ini, menurut penuturan Bregman dalam blognya, untuk menemukan istilah flipped classroom ini tidaklah mudah. Berikut esai edukasi dot com mencuplik tulisan aslinya:

So What Did We Call This?
When we started out we didn’t call it the Flipped Class Model. We were trying to figure out what to call our model. We first called it the Pre-Vodcasting model. Since our videos were first being distributed as podcasts, but video podcasts, we called them vodcasts. However as we have shared our story we realized many teachers who are afraid of technology see the word podcast or vodcast and think they could never do what we are doing.
During this time frame we scoured the internet to see if anybody else had thought the flip. We didn’t find anybody and even went as far as considering copyrighting the idea. We contacted my cousin, a lawyer, and he told us how difficult the idea was and since we really wanted to see this change education, we never pursued it.
As we continued to struggle with what to call our new teaching methodology, we decided to begin calling it Reverse Instruction. This term stuck for quite some time, but in the Fall of 2010, Karl Fink wrote a blog about the Flipped Classroom and that term has stuck. Dan Pink wrote a blog and used the term the Flipped Class and that term has stuck like glue.
Dan Pink credited the flipped class to Karl Fisch from Arapahoe HS but Karl had found out about the reverse classroom from one of his teachers who had attended one of our workshops and then he (Karl) started reversing his classroom. The good news about Karl is he is a very humble guy. When people started calling it the Fisch Flip he told people to not call it that and since he got the idea from a couple of guys in Woodland Park.
And of course this is just the beginning of the story. Our story has become the story of so many other educators across the world who have either experimented with the flip, have fully flipped, or who are still thinking of flipping.



Menghadirkan flipped classroom di kelas.


Jadi siapa penemu metode flipped classroom? Dua orang guru dari Woodland yang berhasil membuat rekaman untuk ditonton murid-muridnya? Atau Salman Khan dari Khan Academy dengan tutorialnya untuk sepupunya? Atau Alison King?
Salman Khan dari Khan Academy
Silahkan berdinamika tetapi jika anda sebagai seorang guru sudah membuat murid anda belajar ‘sehari’ sebelum anda membahas materi tersebut dan berhasil melakukan efisiensi waktu dengan memperdalam materi dan mengeksplorasinya pada saat bertatapan dengan murid anda daripada hanya sekedar memperkenalkan materi itu, anda sudah melakukan metode flipped classroom.

Terlepas sarana apa yang anda gunakan. Mungkin anda seorang guru dari sekolah swasta bergengsi yang dengan mudah mengakses Learning Management System dengan lancar tanpa gangguan. Atau anda seorang guru di daerah pedalaman yang harus mengajar murid-murid yang tinggal di daerah yang sulit di jangkau lalu anda mengirim risalah melalui pos udara agar ketika anda menemui mereka, anda bisa menghemat waktu. Apapun itu, teknologi bukanlah tujuan. Teknologi adalah sarana. Guru adalah fasilitator. Tetapi siswa adalah sumber dan subyek pembelajaran.

Flipped classroom adalah sarana tetapi intisarinya adalah bagaimana siswa anda bisa terpacu untuk belajar makin giat dan bisa bertumbuh senantiasa untuk menjadi pribadi yang siap menghadapi era kedepan. 

Jangan khawatir dengan keterbatasan sarana. Flipped classroom bukan melulu tentang video ini atau aplikasi itu. Bahkan andai anda tahu dan anda harus tahu, jauh sebelum Bergman merekan kelas kimianya, pada akhir 90an, dimana teknologi informasi masih sangat sederhana, seorang cendekia bernama J. Wesley Baker sudah bereksperimen dengan ide ini di Universitas Cedarville. Lalu kemudian beliau menerbitkan sebuah tulisan yang didalamnya terdapat kata ‘classroom flip’ di sebuah konferensi yang mana membuat dirinyalah menjadi orang pertama yang menggunakan istilah itu.

[Konklusi : Metode terbalik semacam flipped classroom bukanlah hal baru. Dengan teknologi, flipped classroom bisa menjadi sangat menarik. Tetapi yang jauh lebih penting dari itu adalah bagaimana metode ini mampu membuat proses belajar mengajar menjadi jauh lebih efektif dan efisien. Di artikel berikutnya, esai edukasi dot com akan membahas mengenai kelebihan dan kekurangan metode flipped classroom ini]

Dukung Kami.

Esai Edukasi Dot Com adalah sebuah blog kecil dengan mimpi yang besar. Kami ingin membangun Indonesia melalui Pendidikan, khususnya menghadapi era Industri 4.0
Kami tak mungkin melakukannya sendirian, tetapi bersama anda kita pasti bisa melakukan sesuatu.

Dukung Esai Edukasi untuk terus memberikan artikel-artikel pilihan dengan cara memberi komentar di kolom komentar.

Share juga artikel dari kami agar semakin banyak orang yang bisa menikmatinya.

Ini sangat berarti bagi kami.

Subscribe juga ke blog kami untuk mendapatkan update artikel dan info menarik lainnya seputar pendidikan dan pengembangan diri. 


  
Rock You As Always



Adi.Fun.Learning
-Read, Change, Grow-




Post a Comment

0 Comments