Industri 4.0 dan Edukasi 4.0 (Kuliah Umum oleh Mr. Ashlam Khan bin Samahs Khan)

Industri 4.0 dan Edukasi 4.0 (Kuliah Umum oleh Mr. Ashlam Khan bin Samahs Khan)





Insight: Artikel ini adalah rangkuman dari kuliah umum oleh Mr. Aslam Khan Bin Samahs Khan, Vice President dari MELTA dan seorang pembicara level internasional yang berfokus pada pengembangan pendidikan, khususnya pendidikan bahasa inggris di sekolah. Dalam artikel ini dibahas bagaimana pendidikan harus bersiap menghadapi era Industri 4.0 



Menjadi guru adalah sebuah anugerah. Guru adalah pekerjaan yang membanggakan dan merupakan sebuah gift dari Tuhan sendiri. Ini adalah sesuatu yang harus disadari oleh semua guru. Dengan menyadari ini maka guru harusnya lebih terpacu untuk makin mencintai pekerjaannya. Bahkan jika perlu, bisa dikatakan bahwa menjadi guru bukan hanya sebuah pekerjaan tapi juga pengabdian dan pelayanan. 


Bayangkan saja, dengan internet yang bisa diakses kapanpun dan dimanapun, tentu siswa akan jauh meninggalkan guru-guru mereka yang masih berkutat pada buku teks yang dicetak sepuluh atau lima belas tahun yang lalu. 

Inilah materi pembukaan yang diberikan oleh Mr. Ashlam. Dengan luar biasa Mr. Ashlam memotivasi para audience yang memang berlatar belakang guru dan calon guru, untuk menyadari bahwa mereka adalah sosok yang terpilih. Bahkan Mr. Ashlam mengatakan 'Choosen by God' atau dipilih oleh Tuhan sendiri. 

Di tengah materi, Mr Ashlam juga terus mengingatkan bahwa be a teacher is a gift. Dengan menyadari hal ini, maka motivasi seorang guru untuk mengajar dapat terus terjaga. Menjaga motivasi untuk terus membara adalah sebuah hal yang sangat penting, terlebih bagi seorang guru. Karena mau tidak mau, kuat tidaknya motivasi yang melandasi seorang guru untuk mengabdi akan mempengaruhi seseorang dalam proses belajar mengajarnya di sekolah dan menghadapi murid. 

Guru juga adalah agen perubahan dan agen kemajuan. Guru adalah penggerak peradaban. Maka mau tidak mau guru juga harus berubah sesuai dengan kemajuan jaman yang makin pesat ini. Guru sebagai agent of change dimulai dengan kemauan guru untuk beradaptasi dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi.  

Paradigma Baru. Guru harus mengubah paradigma dari datang-salam-buka buku menjadi paradigma pendidikan yang relevan dengan apa yang disebut era Revolusi Industri 4.0 dan Education 4.0. Jangan melulu hanya berpedoman pada buku teks. Mengapa? Karena ini adalah pertanda bahwa guru belum siap menyongsong era 4.0 seperti sekarang.

Dengan hanya berpatokan pada buku teks, maka sebenarnya guru sudah tertinggal jauh.

Bayangkan saja, dengan internet yang bisa diakses kapanpun dan dimanapun, tentu siswa akan jauh meninggalkan guru-guru mereka yang masih berkutat pada buku teks yang dicetak sepuluh atau lima belas tahun yang lalu. 

Di era Revolusi Industri 4.0, maka dunia pendidikan kita juga harus berkembang selaras dengan hal itu. Inilah education 4.0, yakni sebuah keniscayaan dan bukan lagi impian. 
Tidak ada murid yang datang dengan zero knowledge. Alih-alih hanya membaca ulang buku, guru harus mampu menyadari bahwa murid bisa mendapatkan pengetahuan di luar dari yang diberikan guru/buku. 
Dalam education 4.0 ada beberapa poin penting yang harus menjadi penekanan. Poin tersebut antara lain: 
  • Anywhere and Anytime : dalam arti belajar itu bisa terjadi dimanapun dan kapanpun. Di era Education 4.0 dan Industry 4.0, pembelajaran tidak lagi bisa dibatasi. Keberadaan gadget memungkinkan siapa saja untuk mengakses pengetahuan dimanapun dan kapanpun. 
  • Personal : dalam arti belajar itu adalah sesuatu yang personal. Para guru harus tahu bahwa semua siswa adalah unik. Tidak mungkin memberikan sesuatu yang sama pada setiap siswa. Pendidikan harus mampu memberikan sebuah pengalaman secara personal. 
  • Flexible delivery: berarti proses penyampaian materi harus dibuat semudah mungkin.Metode klasikal dimana guru hanya ceramah dan memberi tugas harus ditinggalkan. Penggunaan IT harus diperluas lagi. Juga kesempatan kepada siswa untuk mengaplikasikan pembelajaran harus menjadi fokus yang utama. 
  • Peers and Mentors : mengutamakan juga kerja sama dan kerja tim. Hal ini juga selaras dengan konsep 'learn to live together' yang sedang digaungkan oleh semua pihak. Selain itu dengan team work, siswa dapat sekaligus melatih kemampuan berkomunikasi dan meningkatkan performa dirinya ketika harus berhadapan dengan orang lain.
  • Why not What : ini berkaitan dengan HOTS dimana siswa harus bisa berpikir kritis.Guru dan pihak sekolah seharusnya mulai memperbanyak soal dan latihan dengan tipe HOTS. Soal-soal yang abstrak dan cenderung hanya hapalan sudah tidak relevan lagi di era edukasi 4.0 dewasa ini. 
  • Practically : bisa dipraktikan dalam dunia nyata. Ini yang juga penting. Mr Ashlam menekankan bahwasanya pendidikan di sekolah tidak boleh terpisah dan terlepas dari dunia nyata ataupun dunia kerja. 
  • Based in Project : Berbasis Proyek Dengan pendidikan berbasis proyek, siswa terbiasa untuk berpikir kreatif dan efisien. Terlebih jika proyek tersebut akhirnya harus dipresentasikan. Ini bisa meningatkan kebanggaan dan kepercayaan diri siswa. 
  • Student Ownership : Siswa sendiri yang melakukan dan menjadi centre dalam pembelajaran. Bukan lagi guru. Bukan lagi buku. Bahkan bukan lagi sekolah atau kampus. Siswalah pusat pembelajaran. 
  • Evaluated not Examinated: membangun budaya improving not competition. Evaluasi dilakukan untuk meningkatkan pembelajaran. Bukan melulu hanya untuk mengejar kredit atau nilai. 

Every students are unique. There are no two same students. Education 4.0 harus mampu menyadari hal ini. Sekarang bukan lagi era dimana semua anak harus disama-ratakan. Justru sekarang harus diingat bahwasannya setiap anak adalah unik dan berbeda.



Tidak ada murid yang datang dengan zero knowledge. Alih-alih hanya membaca ulang buku, guru harus mampu menyadari bahwa murid bisa mendapatkan pengetahuan di luar dari yang diberikan guru/buku. Maka dari itu penting untuk menggunakan metode deduksi/flip classroom.

Hal penting lainnya yang dibahas oleh Mr Ashlam berkaitan dengan Edukasi 4.0 adalah: 
  • Evaluation is better than examination, di mana penekanan pendidikan 4.0 adalah evaluasi, alih-alih pemberian tes/ulangan.
  • Attitude is more important than qualification. Dalam dunia kerja dan menuju era industri 4.0, peran karakter dan sikap sangatlah penting dan krusial.
  • Learning is more important than teaching. Bahkan termasuk untuk para guru. Sehingga posisi guru sekarang bukanlah sentra pembelajaran tetapi fasilitator pendidikan.
  • Technology is a tool. Ini maksudnya teknologi bukanlah segalanya, melainkan adalah sarana untuk menuju pendidikan 4.0. Sehingga bisa dikatakan sistemlah yang lebih penting.
  • Don’t forget EQ.
  • Jangan jadi guru dinosaurs alias guru jadul. 


Mr Ashlam Khan bin Samahs Khan juga membahas mengenai komponen dalam edukasi 4.0 yaterkenal dengan sebutan  6C + 1 . Komponen tersebut adalah: 

  • Utilize Connectivity
  • Think Critically
  • Communication Clearly
  • Work Collaboratively
  • Embrace Culture
  • Develop Creativity
  • Contextualization
Terakhir Mr. Ashlam berpesan agar guru mampu menginspirasi siswa. Juga tidak mudah menyerah walau harus berhadapan dengan berbagai macam halangan dan rintangan yang mungkin ada. 

Nb : Artikel ini berdasarkan kuliah umum oleh Mr Ashlam Khan bin Samahs Khan dari Malaysia. Kuliah umum ini diadakan pada 15 November 2018 di Gedung Radius Prawiro Universitas Kristen Petra Surabaya. 

Konklusi : Guru dan insan pendidikan harus mampu beradaptasi dengan perubahan jaman. Industry 4.0 harus dibarengi dengan education 4.0. Jika guru dan insan pendidikan tidak mau untuk berubah, maka kualitas pendidikan tidak akan berkembang. 







Post a Comment

1 Comments

  1. Kita sudah harus mempersiapkan diri memasuki Industri 4.0 dan Edukasi 4.0. Makasih Gan

    TERPILIH ATAU TERELIMINASI?

    ReplyDelete
Emoji
(y)
:)
:(
hihi
:-)
:D
=D
:-d
;(
;-(
@-)
:P
:o
:>)
(o)
:p
(p)
:-s
(m)
8-)
:-t
:-b
b-(
:-#
=p~
x-)
(k)